Minggu, 05 Agustus 2012

Penyadaran kesetaraan Gender dalam Seksualitas




Doktrin patriarkhi dan maskulinitas memang belum bisa lepas dari kehidupan laki-laki, hal ini tampak dalam kehidupan seksual laki-laki. Nilai-nilai kepercayaan dan keyakinan laki-laki akan dunia seksualitas sedikit banyak dibangun atas dasar penaklukan, tantangan, keperkasaan serta berorientasi pada hasil akhir ketimbang sebuah proses.

Hal di atas tentu dapat menimbulkan perbedaan orientasi seksual antara laki-laki dan perempuan serta dapat mempengaruhi nilai-nilai kepercayaan antar pasangan yang kemudian menghasilkan ketidakadilan dan bisa berdampak pada kesehatan seksual maupun kesehatan hubungan berpasangan.

Belakangan perempuan menjadi target utama dan penerima manfaat dari program keluarga berencana nasional dan internasional, serta kesehatan reproduksi. Namun di lain sisi mengabaikan peran penting laki-laki dalam kesehatan seksual dan reproduksi keluarga, khususnya sebagai pasangan seksual. Kurangnya keterlibatan laki-laki dalam program promosi, pencegahan dan perawatan mengakibatkan dampak yang cukup serius bagi kesehatan dirinya sendiri dan pasangan. Oleh karena itu perempuan dan laki-laki sama-sama membutuhkan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi yang sesuai dengan situasi masing-masing.

Laki-laki sangat perlu terlibat dalam kesehatan reproduksi dan seksual karena laki-laki memiliki kebutuhan dan hak kesehatan yang khusus, laki-laki memegang peranan kunci dalam kesehatan seksual dan reproduksi pasangan dan anak-anaknya, laki-laki dapat menjadi agen perubahan menuju kesehatan reproduksi dan seksual yang lebih baik. Dengan demikian dapat terwujud seks yang menyenangkan yang saling menghargai, tidak ada pemaksaan, saling berhasrat serta tercapainya kesejahteraan fisik.