Doktrin patriarkhi dan
maskulinitas memang belum bisa lepas dari kehidupan laki-laki, hal ini tampak
dalam kehidupan seksual laki-laki. Nilai-nilai kepercayaan dan keyakinan
laki-laki akan dunia seksualitas sedikit banyak dibangun atas dasar penaklukan,
tantangan, keperkasaan serta berorientasi pada hasil akhir ketimbang sebuah
proses.
Hal di atas tentu dapat menimbulkan
perbedaan orientasi seksual antara laki-laki dan perempuan serta dapat
mempengaruhi nilai-nilai kepercayaan antar pasangan yang kemudian menghasilkan
ketidakadilan dan bisa berdampak pada kesehatan seksual maupun kesehatan
hubungan berpasangan.
Belakangan perempuan menjadi
target utama dan penerima manfaat dari program keluarga berencana nasional dan
internasional, serta kesehatan reproduksi. Namun di lain sisi mengabaikan peran
penting laki-laki dalam kesehatan seksual dan reproduksi keluarga, khususnya
sebagai pasangan seksual. Kurangnya keterlibatan laki-laki dalam program
promosi, pencegahan dan perawatan mengakibatkan dampak yang cukup serius bagi
kesehatan dirinya sendiri dan pasangan. Oleh karena itu perempuan dan laki-laki
sama-sama membutuhkan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi yang sesuai
dengan situasi masing-masing.
Laki-laki sangat perlu terlibat
dalam kesehatan reproduksi dan seksual karena laki-laki memiliki kebutuhan dan
hak kesehatan yang khusus, laki-laki memegang peranan kunci dalam kesehatan
seksual dan reproduksi pasangan dan anak-anaknya, laki-laki dapat menjadi agen
perubahan menuju kesehatan reproduksi dan seksual yang lebih baik. Dengan demikian
dapat terwujud seks yang menyenangkan yang saling menghargai, tidak ada
pemaksaan, saling berhasrat serta tercapainya kesejahteraan fisik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar